Senin, 15 Oktober 2012

Ayah,mengapa aku berbeda ?


Bila semua teman-temanku bernyanyi, aku hanya bisa terdiam. Aku tidak pernah tau harus bagaimana mengatakan pada dunia bertapa aku sangat ingin seperti mereka, bisa mendengar dan bernyanyi layaknya kehidupan normal.
Sayangnya aku terlahir dengan keadaan tuli, lebih sadisnya terkadang mereka orang-orang yang tidak pernah mengerti perasaanku berkata kalau aku “ BUDEK” dan itu dituliskan di kertas untukkku tepat di meja belajarku di kelas.
Tapi aku tidak pernah merasa ingin membalas semuanya, karena aku sadar inilah hidupku dan inilah takdirku.
Dulu semasa kecil mungkin aku tidak pernah merasa beban ini begitu besar dalam hidupku, ketika menyadari aku beranjak remaja dan melihat aku berbeda diantara sahabat-sahabatku. Di depan mading sekolahku tertulis sebuah pengumuman pembentukan tim musik sekolah, aku ingin ikut dalam tim itu tapi sayangnya aku hanya bisa meratapi nasibku. Aku pun pulang untuk bertemu dengan ayah, aku terduduk dengan wajah penuh kesedihan,
Dalam duniaku, hanya ayah yang bisa mengerti apa yang aku katakan. Walaupun itu harus dengan bahasa tangan yang ia pelajari dengan susah payah.
Aku mengetuk pintu untuk memberi tanda aku ada di kamar untuk bicara dengan ayah, ia melihatku dan melempar senyum.
“ Angel, ayo masuk. Silakan duduk disini nak, ada apa? Bagaimana pelajaran kelas kamu hari ini?”
Aku tertunduk, lalu ayah mulai bisa membaca wajahku.
“ Apa yang terjadi nak, ceritakan pada ayah?”
“ Ayah mengapa aku berbeda dari teman-temanku?”
“ Dalam hal?” tanya ayah padaku,
Aku menangis dan usiaku saat itu hanya 12 tahun dan duduk di sekolah menengah pertama.
“ Aku tidak bisa bernyanyi, tidak bisa mendengar.. Mengapa ayah?”
Ayah melihatku sambil tersenyum,
“ Apakah kamu merasa bersedih karena itu?”
“ Ya, aku sangat bersedih.. Aku ingin seperti mereka.. Bisa bernyanyi dan mendengarkan indahnya musik..”
“ Mengapa kamu ingin menjadi seperti mereka?”
“ Karena aku ingin menjadi tim musik sekolah, aku ingin ayah..”
“ Kalau begitu lakukan..”
Aku terdiam tidak bisa membalas pertanyaan ayah kemudian ia bangkit dan mengajakku ke ruangan gudang di belakang rumahku, ia mulai membersihkan debu-debu di sebuah meja panjang yang tadinya kupikir adalah meja makan. Ternyata itu adalah piano klasik. Aku memperhatikanya dengan heran,
“ Ini adalah peninggalan ibumu sebelum ia meninggal setelah melahirkan kamu, ayah sudah tidak pernah mendengarkannya sejak kamu terlahir..”
“ Lalu..?” tanyaku.
“ kamu mungkin terlahir tanpa bisa mendengar dan bernyanyi. Tapi kamu terlahir dari rahim seorang ibu yang berjuang agar kamu ada di dunia ini dan ayah percaya, Tuhan memberikan kamu dalam kehidupan karena kamu memang layak untuk itu.”
“ Tapi aku cacat, tidak normal dan tidak akan pernah bisa mendengar musik? Bagaimana caranya aku bisa seperti teman-temanku.”
“ Sayang kamu memang tidak bisa mendengarkan musik, tapi kamu bisa memainkan musik?”
“ Bagaimana caranya?”
“ Ayah ada disini untuk kamu dan percayalah, musik itu akan terasa indah bila kamu merasakannya dari hati kamu. “
“ Walaupun aku tidak bisa mendengar..”
Ayah duduk dikursi dan menyuruhku memperhatikannya bermain piano, Ia menutup matanya lalu memainkan arunan toth piano itu.
“ Anakku, rasakanlah musik itu dalam hati dan kamu akan tau bertapa Tuhan sangat mencintai siapapun makluk yang ia ciptakan. Walaupun kamu terlahir dengan keadaan cacat dan tidak bisa mendengarkan suara musik itu dari telinga kamu.. Kamu bisa dengarkan lewatkan hati kamu..”
Ayah mengajakku untuk menyentuh setiap toth piano dan kami bermain bersama, aku memang tidak bisa merasakan apa suara music itu tapi aku bisa merasakan nada dari jari yang ketekan dan itu membuatku bersemangat untuk berlatih piano klasik, aku tau ibuku adalah seorang pemain piano sebelum ia meninggal saat melahirkanku. Aku pun berjuang untuk bermain musik dan perlahan aku mampu membuat sedikit alunan music yang indah. Semua itu kurasakan dalam hatiku, semua itu kurasakan dalam jiwaku.
Beberapa minggu kemudian, aku mulai berani mendaftar dalam tim musik sekolahku dan guruku menerimaku walaupun ia tau aku cacat tapi setelah aku mainkan piano dan ia terkesan. Aku tau semua orang melihatku dengan aneh, seorang teman bernama Agnes datang padaku.
“ Hai orang cacat, apa yang bisa kamu lakukan dengan telingamu yang tertutup kotoran?”
Yang lain tertawa dan menambah kalimat yang melukai hatiku,
“ Dia mungkin mau jadi badut diantara tim kita, biarkan saja..”
Ejekan itu berakhir saat guruku datang, mereka semua kembali ke posisi mereka masing dalam alat music yang mereka kuasai. Ibu guru pembimbing kelas musik bersikap hangat padaku, ia memperkenalkanku pada semuanya.
“ Anak-anak mulai hari ini Angel akan bergabung dalam tim kita, semoga kalian bisa berkerja sama dengan Angel ya..”
“ Ibu apa yang bisa lakukan untuk tim kita, dia kan budek?” ejek Agnes.
“ Agnes!! ibu tidak pernah mengajarkan kamu untuk menghina orang lain, jaga sikap kamu. Walaupun Angel cacat secara fisik ia juga memiliki perasaan, tolong kendalikan kata-kata kamu.”
Aku senang ibu membelaku tapi itu malah membuat semua membenciku, ibu mempersilakan aku memainkan piano, dengan gugup aku bisa bermain dengan baik. Tidak ada satupun tepuk tangan dari teman-temanku, hanya ibu guru seorang. Ketika kelas bubar aku mendekat pada ibu guru, aku menuliskan apa yang ingin aku katakan kepadanya, Ia membacanya.
“ Ibu , aku mundur saja dari tim, aku tidak mungkin bisa menjadi bagian dari mereka. Karena aku ini cacat. Mereka tidak akan menerimaku?”
“ Tidak sayang, jangan berkata demikian, kamu special, kamu berbakat, mereka hanya belum terbiasa, percayalah kalau kamu sudah sering bermain dengan mereka. Kamu akan diterima dengan suka cita. Jadi ibu tidak mau mendengarkan kalimat kamu ingin mundur..”
“ Tapi bu, aku takut bila membuat semua jadi kacau.”
“ Anakku, beberapa minggu lagi, sekolah ini akan merayakan hari ulang tahunnya, ibu percaya kamulah satu-satunya orang yang layak mengisi tempat di bagian piano, karena teman kamu Rika ( pianis sebelumnya) telah mundur karena sakit cacar”
Aku pulang ke rumah dan memberi kabar kalau aku diterima dalam tim musik sekolah, ayah begitu gembira menunggu saat-saat aku akan berada dipanggung, ia terus melatih permainan pianoku. Aku tidak pernah cerita bertapa aku sangat diremehkan oleh teman-teman se-timku yang hanya menganggap aku sampah yang tidak layak disamping mereka. Mereka sering memarahi aku dengan kata-kata kasar lalu mereka menghinaku sebagai gadis caca, hal itu terus terjadi disaat kami berlatih persiapan untuk panggung sekolah . Mereka tidak pernah peduli apa yang kumainkan bila benar, mereka selalu bilang salah. Padahal aku yakin aku benar-benar memainkan musik piano ini, sedihnya saat aku bertanya dimana letak kesalahanku yang mereka jawab lebih menyakitkan.
“ Kamu ini tuli dan budek, bagaimana bisa kamu tau alunan musik yang kamu mainkan itu benar atau salah? Kamu membuat aku muak dengan sikap kamu yang sok pintar dan mencari muka di depan bu guru.” Kata Agnes padaku.
Aku menangis mendengarkan kalimat itu, aku berlari pulang ke rumah dan satu-satunya kalimat yang kudengar hanya satu. “ Pergi kamu gadis cacat, jangan pernah kembali ke tim kami, kami tidak sudi menerima kamu dalam kelompok ini.”
Aku menangis hingga di depan rumahku dan ketika aku tiba di gerbang rumahku, sebuah mobil ambulan ada didepan rumahku dan membawa ayah. Aku mengejar perawat yang membawa ayah, ayahku tampak tertidur tanpa bicara, seorang tetanggaku berkata padaku.
“ Ayahmu terkena serangan jantung, kamu ikut tante saja. Kita pergi bersama-sama ke rumah sakit.”
Aku shock dan menangis! Bagaimana hidupku tanpa ayah? Sepanjang perjalanan aku terus menitihkan air mata. Ayah tidak sadarkan diri sejak sakit jantungnya kambuh, ia memang memiliki sakit jantung sejak menikah padahal usianya masih sangat muda. tiga hari lamanya aku menemani ayah yang tidak pernah sadarkan diri. Tiga hari pula aku tidak pernah ke sekolah, bu guru bertanya pada Agnes mengapa aku tidak masuk hari ini?”
“ Mungkin Angel merasa tidak sanggup lagi bergabung dengan tim kita, dia itu bodoh bu! Selalu melakukan kesalahan dan dia pergi begitu saja saat latihan dan tidak pernah kembali hingga saat ini.”
Ibu guru mencoba pergi ke rumahku, tapi tidak ada seorang pun orang dirumahku. Aku tau beberapa hari lagi perayaaan musik di sekolahku akan dimulai. Mungkin memang sudah menjadi garis tangan hidupku, aku tidak boleh menjadi tim sekolah. Padahal aku sudah berjuang maksimal berlatih piano di rumah. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menjaga ayahku karena ia lebih penting dalam hidupku, ia satu-satunya sahabatku yang bisa mengerti keadaan ku setelah ibu meninggal dunia.
Ya Tuhan jangan ambil ayahku, doaku setiap saat kepadanya
Seminggu kemudian,
Ayah tersadar dan melihat aku disampingnya. Ia tidak bisa bicara banyak, selain bertanya mengapa aku disini, mengapa aku tidak berlatih bersama tim musik disekolahku, aku berpura-pura berkata padanya kalau mereka memberikan aku izin menjaga ayah. Ayah marah padaku, ia bilang aku harus segera latihan dan ia ingin aku tampil disana.
“ Jangan pedulikan ayah saat ini, yang penting kamu harus bisa buktikan kepada semua orang kalau kamu bisa bermain musik dan tunjukkan kepada mereka kamu gadis yang sempurna ”
Aku tau itu berat, tapi aku tidak ingin ayah bersedih mendengar penolakkan sahabatku di sekolah, ia berjanji padaku akan lekas sembuh asal aku terus bersemangat latihan musik. Akhirnya aku pun pergi ke sekolah kembali dan masuk ke kelas musik. Ibu guru menyambutku dengan baik, dan langsung memintaku berlatih. Setelah ia pergi, Agnes dan kawan-kawan mendekatiku, mereka mendorongku hingga terjatuh.
“ Kamu itu makluk Tuhan paling menjijikan, jangan membuat tim kami malu dengan kehadiran kamu di tim music kami. tidak punya malu, padahal kami sudah mengusirmu..”
Aku terdiam, seorang teman mengatakan pada Agnes,
“ Percuma dia tuli, dia ga akan mendengarkan apa yang kita bicarakan.”
Agnes marah merasa aku tidak mendengarkan semua kemarahannya, Ia bersama teman-teman mendorongku hingga keluar ruangan, aku mengetuk pintu dan ketika tanganku berusaha membuka pintu, mereka menjepit tanganku tanpa ampun, aku berteriak kesakitan dan mereka tidak peduli
“ Astaga dia bisa menjerit juga ya.. kirain dia itu bisu, bisa teriak juga hahaha “ ledek mereka.
Mereka menyiksaku dan aku tidak berdaya. Tanganku terasa mati rasa, mungkin jariku patah. Aku meminta tetanggaku untuk membalut luka ini dan ia sangat terkejut dengan keadaanku. Aku berkata padanya aku terjatuh di jalan. Tapi aku tidak akan pernah menyerah untuk menjadi tim musik kelasku. Hingga hari itu tiba, dengan luka balut tanganku aku muncul di sekolah. Sebelumnya aku mengatakan pada ayah .
“ Ayah hari ini aku akan bermain musik dihadapan semua orang, ayah harus mendengarkan ya. “
“ Anakku, ayah pasti mendengarkan. Maaf saat ini ayah sedang sakit, ini adalah hari istemewamu. Tapi ayah sudah pikirkan bagaimana caranya. Ambil telepon genggam ayah dan biarkan itu menyala saat kamu mainkan.”
“ Baik ayah.” Aku menuruti ide cermerlang ayah.
Saat aku keluar ruangan, dokter mengatakan hal kecil disamping ayah “ Jantung anda melemah, anda harus terus berpikir positif sehingga cepat sembuh”
“ Anak saya akan manggung hari ini, itu membuat saya cemas”
“ Percayalah , anak anda adalah gadis luar biasa..”
Aku menangis menuju sekolahku, Saat aku tiba di sekolah, Agnes dan kawan-kawan melihatku dengan jijik. Sepertinya mereka tidak mau aku di panggung, mereka manarik bajuku dan menamparku di belakang panggung.
“ Pergi cepat, jangan pernah ada disini, kami akan tampil tanpa kamu. Cepat pergi? Sebelum ibu guru datang”
Tidak, aku tidak akan menyerah walaupun mereka menyiksaku. Aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain musik di acara sekolah. Karena mereka mendapatkan aku tidak menyerah, akhirnya mereka mengancam tidak akan tampil dan memaksa aku tampil seorang diri, mereka ingin membuatku malu.
“ Baiklah, kami tidak akan tampil. Dan silakan kamu tampil sendirian, jadilah badut diatas panggung..”
Aku tidak mampu berbuat apa-apa ketika mereka mengikat rambutku layaknya orang bodoh, memoles mukaku dengan cat warna merah menyerupai badut sirkus. Aku tidak peduli, aku hanya ingin ayah bahagia dan menepati janji kepada ayah untuk tampil dalam panggung itu. Setelah puas mendandaniku seperti badut mereka pergi mendorong aku diatas panggung saat ibu guru yang bertugas menjadi pembaca acara memanggil tim kami dan aku muncul sendirian, mereka semua berlarian mengumpat.
“ DImana yang lain?” tanya ibu guru,
Aku terdiam, semua orang yang ada di bangku penonton menertawakan aku, mereka melihat badut yang sedang berada diatas panggung, aku sungguh tidak bisa berbuat-apa ap.
“ Astaga apa yang terjadi padamu dan yang lain pergi kemana? Kita tidak akan bisa menjalankan acara music ini.”
Aku mengambil kertas dan menuliskannya
“ Bu, izinkanlah aku bermain piano ini, aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain piano , ia sedang terbaring lemas di rumah sakit, jantungnya melemah hari ini, aku takut ia akan semakin buruk bila tau aku gagal bermain bersama tim musik di sekolah”
Ibu menatapku, ia sadar bertapa aku sangat sulit.
“ Baiklah mainkanlah piano ini, tunjukkan pada dunia kalau kamu adalah orang special dengan musikmu”
“ Terima kasih bu.”
Ibu guru memberikan kata-kata sambutan kepada penonton yang terus tertawa karena melihat badut sepertiku, tapi aku tidak peduli. Dengan keunggulan 3g, aku mengadakan video call dan ayah tersenyum padaku memberikan semangat, keletakkan telepon itu diatas meja piano.
“Tuhan bimbing aku agar semua berjalan dengan baik. Dan dengarkanlah musik ini..”
Setiap denting musik mulai memecahkan semua tawa yang awalnya menghujatku, menghinaku, arunan musik ini membawa perjalanan kisahku untuk berjuang menunjukkan pada dunia, aku memang terlahir cacat, aku tidak pernah tau apa artinya musik, tidak tau bagaimana suara burung, suara ayah bahkan tragisnya aku tidak pernah tau suara yang keluar dari mulutku sendiri.
Tapi aku percaya, aku tercipta bukan tanpa tujuan dalam dunia ini. ketika lagu itu usai kumainkan, semua berdiri dan memberikan tepuk tangan, aku menangis. ibu guru memelukku, aku ingin ibu menyampaikan pesanku kepada penonton.
“ Terima kasih, memberikan aku kesempatan untuk berada ditempat ini. Kini aku tau mengapa aku berbeda, karena Tuhan mencintaiku. Aku tidak akan marah pada Agnes dan teman-teman, aku bersyukur karena mereka mengajarkan aku tentang ketekunan dan ikhlas. Termasuk ayah, yang selalu bilang padaku “ kita tidak perlu merasa sedih dengan keadaan kita, bagaimanapun bentuknya. Karena Tuhan memberikan kita nafas kehidupan dengan tujuan hidup masing-masing”
Ya aku percaya itu.
Tamat.

My Idiot Brother


Pada suatu pagi…
Dalam mimpiku, aku bertemu dengan seorang pangeran tampan yang sedang menawarkan bunga kepadaku. Aku tidak ingat siapa nama pangeran itu, tapi sekilas aku pernah melihatnya ketika pulang sekolah. Dan di saat aku sedang mencoba menerima bunga itu, tiba-tiba mimpiku langsung rusak oleh suara ketukan pintu kamarku, lalu pangeran itu menghilang seiring aku terbangun dari mimpiku. Seharusnya seperti biasa, aku selalu ingat untuk mengunci kamarku dengan baik dan mengingatkan sebuah tulisan di kertas yang tertulis rapi di depan pintu kamarku.
JANGAN BANGUNIN GUE SAMPAI GUE PUAS TIDUR!!
Tapi sepertinya tulisan itu tidak ada artinya, ada saja gangguan seseorang yang  membuatku langsung naik darah.
“Adik… Adik… bangun… bangun… sudah pagi…”
Dengan terpatah-patah suara kakakku membangunkanku.
Mendengar suara itu, aku langsung menutup kedua telingaku rapat-rapat dengan bantal di wajahku. Tapi semakin aku tutup telingaku, semakin kuat terdengar teriakan itu dan aku pun menyerah, kemudian melompat dari ranjangku lalu mendekati pintu dengan keadaan rambut sebahuku yang berantakan. Dengan emosi, aku membuka pintu dan terlihatlah sosok kakakku yang sedang membawa segelas susu dengan wajah bodohnya yang penuh senyum.
“Adik sudah bangun? Ini susu… minum…”
“Dasar idiot! Loe bisa baca gak sih tulisan ini?” kataku sambil menunjuk ke pintu kamarku.
Kakakku memutar bola matanya dan menaikkan kepalanya membaca tulisan itu dengan perlahan dari mulutnya. Tak ketinggalan ciri khas kepalanya yang suka mengangguk-ngangguk naik-turun seperti boneka hewan dengan leher kawat behel  yang sering dijadikan penghias di mobil.
“Apa perlu gue tulis sepuluh tempelan biar loe ngerti gak usah bangunin gue?!” teriakku emosi dan gemas.
Kakakku terdiam dan berkata, “Tapi sudah pagi, Adik harus sekolah…”
“Sebodo amat, pergi!!” teriakku sambil menutup pintu dengan kencang. Kakakku terkejut sampai menutup matanya. Ia berjalan turun melewati tangga menuju dapur dengan langkahnya yang perlahan.
***


Nama kakakku, Hendra.
Umurnya lima tahun di atasku. Ia bertubuh sedikit gemuk sedangkan tinggiku hanya sepundaknya. Walau ia memiliki tubuh sempurna seperti orang normal lainnya, tapi dia  memiliki penyakit yang  bernama Down Syndrom. Penyakit yang membuat pikirannya walau sudah berusia  delapan belas tahun tapi berpola pikir mundur  sepuluh tahun. Secara matematika, sekarang ini dia seperti anak baru berusia  delapan tahun saja. Kami hanya dua bersaudara dengan Ayah yang bekerja di pertambangan laut lepas dan ia hanya pulang setiap  tiga sampai  enam bulan sekali sedangkan Ibu hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Seluruh waktunya dipakai sepenuhnya hanya untuk kami.
Kakakku turun ke dapur saat Ibu sedang menyiapkan makan pagi berupa telur mata sapi dan mie goreng.
“Adik pemalasmu belum bangun, Kak?”
“Adik tidur… dia masih tidur… ini susu, dia tidak mau…”
“Dasar anak pemalas!” kata ibuku sambil menaruh piring di meja dapur dan beranjak pergi ke kamarku yang terletak di atas lantai dua.
Aku tahu, akan bahaya kalau sampai Ibu yang membangunkan aku. Belajar dari pengalaman jauh dari hari-hari sebelumnya. Kalau Ibu marah, ia akan mengurangi  lima puluh persen uang jajanku. Kalau itu terjadi, hidupku dalam bahaya. Bagaimana aku harus membeli alat-alat kecantikan? Bagaimana aku harus membeli boneka-boneka yang aku suka? Aku bisa rasakan derap langkah kaki Ibu yang menuju kamar dan langsung saja aku melompat dari ranjangku menuju meja dandanku, merapikan rambutku dengan sisir. Tentu saja itu hanya sandiwara untuk mengelabui Ibu!!
Ibu yang kesal langsung membuka pintu dengan kunci cadangan yang dimilikinya, dan kunci itulah satu-satunya cara ia bisa masuk ke kamarku ketika aku menguncinya. Saat membuka pintu, sebelum sempat  berteriak, tiba-tiba Ibu menahan suaranya. Aku melihat  Ibu dengan tatapan tajam menutupi rasa kantukku.
“Kenapa, Bu?” tanyaku.
“Gak apa apa, makan pagi sudah siap, cepat makan dan berangkat ke sekolah!” kata Ibu.
“Please deh. Jangan bikin kaget orang hanya untuk makan pagi, Angel udah gede. Bisa bangun sendiri, gak usah suruh Kakak bangunin,”  gumamku kesal.
“Sudah gede kepalamu! Kalau kakakmu gak bangunin, kamu pasti akan terlambat sekolah,” kata ibuku lebih kesal.
Aku mengoceh sendiri  di depan cermin mengikuti gerak bibir Ibu yang cerewet sambil meledeknya. Karena kesal,  ibuku hanya bisa pergi dengan menutup pintu lalu meninggalkanku.
Beginilah hidupku setiap paginya, harus berjuang bangun pagi untuk sekolah. Makan pagi semeja bersama seorang kakak bodoh  yang makan saja harus berantakan kemana-mana seperti  balita yang baru belajar makan. Tapi yang aku heran, kenapa ibuku bisa bertahan dan sabar menghadapi kakakku yang aneh ini ya? Kadang aku berpikir, mengapa kakakku bisa menjadi cacat seperti ini ya?
Dalam keluargaku, aku ini baik-baik saja,  Ibu juga baik-baik saja, begitu pula dengan ayahku. Sempurna.
Karena penasaran, aku pernah mendengar dari bibiku bahwa dulu Ibu harus berjuang lima tahun lamanya menunggu kelahiranku sampai merasa kakakku sudah cukup besar. Kakakku itu sebenarnya terlahir normal, tapi pada saat berusia beberapa bulan tiba-tiba ia terserang demam tinggi yang akhirnya membuat beberapa bagian organ otaknya mengalami kerusakan karena kekurangan oksigen.
Beruntung ia dapat selamat dan bertahan hidup, tapi akhirnya ia jadi seperti sekarang ini. Ia hidup dengan keterbelakangan mental. Ia seperti orang bodoh yang kalau ngomong saja terpatah-patah dan membosankan. Ayah pasti bersedih ketika tahu kakakku divonis terkena penyakit down syndrome. Mereka terpukul tapi tidak melupakan tugas mereka sebagai orang tua yang baik.
Melahirkanku adalah salah satu cara mereka percaya bahwa aku bisa menjadi cahaya dalam keluarga kecil mereka. Tapi aku merasa, aku ini dimanfaatkan oleh ibuku sebagai perawat kakakku saja. Ibu sering mengajariku untuk sayang dan peduli pada kakakku. Tapi aku justru merasa, kakakku ini beban dalam hidupku. Beban yang membuat aku malu dan sulit percaya kalau keluarga kami ini sempurna. Sekeras apapun aku berpikir, aku merasa ini tak adil. Mengapa Tuhan memberikan takdir kami seperti ini?
Sampai detik ini, aku tetap tidak mendapatkan jawaban selain harus menerima nasibku seperti ini.
***
Sebenarnya  aku merasa hubungan aku dan kakakku baik-baik saja. Sewaktu kecil kami selalu bermain bersama. Kakakku itu sudah lulus dari sekolah luar biasa setahun yang lalu, tepatnya ketika aku sudah duduk di Sekolah Menengah Pertama. Kami pindah rumah dan tinggal di rumah yang lebih besar dari sebelumnya. Mungkin kepindahan rumah ini memang sengaja diatur saat kakakku sudah lulus sekolah sehingga Ibu tidak perlu repot pulang ke rumah yang tak jauh dari sekolah kakakku.
Rumah baruku  terdiri dari lingkungan baru dan sekolah baru untukku. Aku merasa tersanjung untuk diriku tapi menyadari betapa malangnya nasibku. Karena ternyata demi kakakku, aku harus mengorbankan sekolah duluku yang biasa-biasa saja. Dulu, teman-temanku selalu berpikir kalau kakakku itu lucu dan aku sedikit bangga karena itu. Tapi sekarang? Tidak!
Mereka adalah teman-teman sekolah dasarku yang selalu bermain di rumah bersama kakakku tentunya. Walau kakakku ini idiot, tapi dia ini pandai berhitung. Dia tidak akan salah kalau menghitung sejumlah uang monopoli, satu-satunya permainan yang ia sukai. Aku rasa mereka datang bukan karena menyukai bermain bersama aku tapi karena Ibu selalu memanjakan kakakku. Ia bisa membeli apa saja makanan yang ia suka dan ketika teman-temanku pulang, mereka akan selalu mengapit roti ataupun permen sebagai hadiah bermain.
Dasar ibuku, ia tidak pernah adil terhadapku! Ia hanya akan memberikan apa yang aku suka asal kakakku juga suka. Karena hal itu, aku sering marah-marah. Tapi Ibu seperti biasa selalu berkata,“Temani dan bermainlah bersama kakakmu, baru Ibu belikan yang kamu mau!”
“Ibu kejam sekali, Ibu sogok Angel ya?”
“Untuk  apa Ibu sogok kamu? Ibu hanya ingin ajarkan kamu bagaimana sulitnya mencari uang.”
“Mencari uang dengan bermain sama kakakku yang idiot itu? Emangnya Angel ini babysitter??”
Kalau aku sudah bicara begitu, bersiap-siaplah kepalaku merasakan jitakan khas ibuku yang bisa membuat kepalaku benjol karena emosinya.
Kalau sudah begitu, aku merasa hidup ini tidak adil. Akhirnya aku harus merelakan waktuku hanya demi untuk mendapatkan uang saku dengan bermain bersama kakakku. Untungnya, kakakku itu tidak begitu banyak merepotkan seperti anak bayi. Ia bisa melakukan apa saja. Ia tidak pernah tersesat bila pergi membeli makanan di warung tetangga atau supermarket terdekat. Ia bisa makan sendiri walau terkadang berantakan seperti seekor kucing yang sedang makan lahap. Dan yang terpenting, aku tak perlu membantu dia untuk membersihkan diri setelah usai buang air besar. Konon kalau aku tak salah ingat, ia baru mampu membersihkan dirinya sehabis buang air besar setelah ia berusia 15 tahun, aneh sekali.
Memang sih, terkadang aku merasa kasihan pada Ibu. Ia menghabiskan sebagian sisa waktunya hanya untuk menjaga kakakku. Baru akhir-akhir ini saja ia mulai merasa lega, setelah aku cukup besar dan bisa menjadi penggantinya. Ia mulai sering pergi ke salon untuk mempercantik diri. Ia juga aktif mengikuti arisan bersama teman-teman lamanya. Kalau sudah begitu, antara senang dan tidak, aku jadi perawat kakakku demi mendapatkan uang saku tambahan. Tapi di di sisi lain, aku merasa seperti pembantu saja.
Ayah kami seorang pria yang bertanggung jawab. Walau hanya seminggu pulang setelah bekerja  tiga sampai  enam bulan di laut lepas untuk mencari uang, ia selalu mengajak kami pergi bermain bersama saat berkumpul dalam waktu singkat itu. Ayah sangat sayang pada kakakku, ia menerima segala keadaan dan cobaan yang terjadi. Konon menurut Ibu, pangkat Ayah naik setelah kakakku lahir. Percaya tak percaya, tapi keadaan ekonomi kami membaik seiring pangkat Ayah yang naik hingga keluarga kami mampu membangun rumah baru yang lebih baik dari rumah sebelumnya.
Ayah juga tidak sepelit ibuku. Kalau ia sudah pulang, tanpa banyak basa-basi, aku tinggal sebutkan apa yang aku mau lalu ia akan membelikannya. Ibuku kadang suka marah karena merasa Ayah telah memanjakanku. Karena selama ini ia mendidikku untuk selalu bekerja agar dapat apa yang aku mau. Kalau dipikir-pikir, aku ini seperti bukan anak ibuku saja. Asal kakakku ingin ini dan itu, Ibu langsung memberikan tanpa tedeng aling-aling. Kalau aku yang mau, ya… siap-siap mendengar siaran langsung berita ibuku yang sekali cuap-cuap bisa sepanjang sungai amazon.     JJJ
Setelah stress menghadapi keluargaku yang kacau, aku harus stress juga dengan lingkungan sekolah baruku ini. Sekolahku yang dulu anak-anaknya tidak kaya dan sederhana, tapi yang sekarang, semua orang seperti pamer kekayaan. Kadang aku muak melihat mereka pamer sepatu sampai baju import yang mereka beli ketika sedang bergosip di kelas, khususnya anak perempuan. Kalau yang laki-laki mereka selalu membicarakan tentang seputar koleksi mainan import mereka. Ah… sudah otakku tidak pintar, ditambah tiap hari harus mendengar ocehan mereka tentang baju baru, sepatu baru dan koleksi parfum, sampai mainan baru mereka. Rasanya sekolah ini menambah penderitaan hidupku saja.
Di sekolah baruku, aku tidak memiliki banyak teman cewek karena aku memang sedikit tomboy. Meskipun begitu tapi aku masih memperhatikan kalau aku ini cewek yang harus tampil cantik setiap hari di sekolah. Aku suka sekali bermain basket bersama teman-teman laki-laki yang mungkin berbeda kelas denganku. Nilai lebihnya, aku suka basket.  Karena basket adalah pelajaran olahraga  yang paling aku sukai dan selalu memberikan nilai A di setiap ujianku. Selain pelajaran itu, kata Ibu, nilai-nilaiku yang lain seperti rumah kebakaran, penuh dengan warna merah dan selalu mendapat nilai buruk.
Tapi kalau Ayah, ia selalu membelaku. Ia selalu bilang, “Gak peduli betapa buruknya nilai kamu asal kamu naik kelas, mau rangking terakhir pun Ayah sudah cukup puas.”
Berdasarkan prinsip Ayah itulah aku menjadi pemalas kalau disuruh belajar. Di kelasku itu, aku juga paling benci dengan cewek norak bernama Agnes dan kawan-kawannya yang bermuka sok indo tapi berkelakuan barbar. Ia memilik dua teman yang aku rasa adalah kacung bayaran yang disewa untuk selalu berada  di samping dia. Yang satu bertubuh kurus tinggi bernama Fifi dan satu lagi bertubuh gempal  –yang kurasa sekali kupukul akan jatuh tanpa pernah terbangun lagi–  bernama Maria. Kami selalu bermasalah dan bermusuhan.
Itu semua dimulai ketika pertama kali kami sekelas. Ia selalu menganggap aku orang yang paling tidak bisa ditundukan.
Aku selalu berkata dalam hatiku untuk tidak pernah nurut dengan perintah orang lain, hingga suatu ketika…
‘Halo? Emangnya siapa loe? Memangnya putri presiden sampai gue harus nurut sama loe?’ kataku dalam hati saat dia secara tiba-tiba memintaku untuk menghapus papan tulis yang kotor.
“Gue ini kan ketua kelas loe!”
So what?” kataku menantang.
“Ok, kalau loe gak mau dengerin gue, mulai saat ini loe musuh gue!”
“Siapa takut?!” kataku.
Dan sejak saat itu aku tidak pernah banyak bicara lagi padanya. Aku asyik dengan duniaku yang banyak menghabiskan waktu di lapangan basket bila jam istirahat. Jauh dari kegiatan Agnes yang bila waktu istirahat, ia akan berlaga seperti model fashion show berjalan, pamer kenorakan barang-barang bermerek importnya dengan harapan menjadi pujaan laki-laki dan perempuan di sekolahku. Yang pasti, aku selalu menghindari kontak fisik dengannya dan aku rasa ia paling takut bila aku memukulnya walau ia harus mengeroyok aku dengan teman-temannya yang tidak membuatku takut sama sekali.
Pernah suatu ketika, saat aku menjadi sangat marah dan malu dengan diriku sendiri. Selama ini, teman-teman baruku tidak pernah tahu bagaimana kondisi latar belakang keluargaku. Sampai suatu saat, tanpa angin dan kabar apapun, Ibu dan kakakku datang menjemput aku saat pulang sekolah dengan mobil. Mereka menungguku di pintu gerbang saat bubaran sekolah, dengan wajah kakakku yang idiot itu –yang tampak sedang menghisap permen lollipopnya dan yang menjijikan adalah air liurnya berjatuhan ke kerah baju yang sudah dipasang sapu tangan terikat oleh ibuku– .
Tiba-tiba saja Ibu memanggilku, “Angel!”
Aku menoleh dan terkejut ketika mereka mendatangiku.
“Ibu ngapain kesini?”
“Ibu buru-buru habis pergi ke salon sama kakakmu, ini Ibu titip kakakmu dulu. Ibu harus pergi ke acara arisan dadakan, ini penting karena hari ini Ibu yang dapat uangnya.”
“Tapi kan bisa tunggu di rumah, Angel juga akan pulang kok.”
“Sudah jangan bawel, ini ajak kakakmu pulang, naik becak atau bajaj,” kata ibuku yang langsung pergi meninggalkan aku dan kakakku.
Disaat itulah, Agnes dan kawan-kawannya melihatku. Semua orang di sekolah itu melihat kakakku yang tiba-tiba tertarik melihat orang-orang bermain basket. Aku harus menarik tangan kakakku untuk pergi dari sekolahku.
“Adik, Kakak mau main basket…”
“Enggak. Pulang, cepet!” ujarku  sambil  menarik tangannya dengan paksa tapi kakakku masih bertahan.
“Pulang gak? Atau gue tinggal disini?” kataku kesal.
Kakakku malah merengek untuk bertahan seperti anak kecil yang kehilangan mainan.
“Adik jahat… Adik jahat…”
Karena kesal aku pun menariknya dengan paksa dan disaat itulah Agnes dan kawan-kawannya muncul.
“Oo… headlines news ini kalau di Metro TV,” ledek Agnes.
Aku tau, mereka pasti akan mempermalukan aku saat itu juga.
“Apa sih maksud loe?”
“Itu siapa loe? Adik, kakak atau… peliharaan loe?” kata Agnes yang disambut tawa oleh kedua temannya, Fifi dan Maria.
“Bukan urusan loe!” kataku sambil  buru-buru pergi dan terdengar teriakan mereka.
“Hallo anak cacat! Pantesan loe bego banget di kelas, secara kakaknya cacat. alhamduillah ya… sesuatu itu pasti ada sebabnya,” kata Agnes meniru gaya khas artis Syahrini yang sedang ngetop itu.
Tiba tiba kakakku yang marah langsung mengambil batu di jalan dan bermaksud melempar Agnes dan kawan-kawannya dengan batu. Aku terkejut dan menarik tangan kakakku.
“Ngapain sih? Udah deh pulang, loe udah bikin gue malu tau gak?!”
“Mereka jahat!” kata kakakku.  Aku merampas batu itu dari tangannnya.
Aku pun pergi dan berlalu meninggalkan mereka mendekati parkiran bajaj di depan gerbang yang berbaris rapi. Terdengar sayup-sayup suara Agnes dan kawan-kawan.
“Ih peliharaannya galak loh… takut…” seru Agnes dengan muka licik dan tawa menghina.
Sejak saat itu aku tahu bahwa aib dan rahasia yang aku tutupi dengan rapat kini telah terbuka. Agnes dan kawan-kawannya akan membuatku malu dengan cacatnya kakakku sebagai ejekan. Aku menjadi sangat benci dengan kakakku. Aku merasa malu memiliki kakak yang seperti ini ada di sampingku, berjalan bersamaku dengan gayanya yang idiot dan pandangan matanya yang selalu melihat sesuatu dengan aneh ditambah air liurnya yang belepotan membuatku jijik.
Sesampainya di rumah, aku membayar uang bajaj kemudian pergi meninggalkan kakakku lalu menutup pintu kamarku dan menangis.
Tuhan… aku tidak sanggup punya kakak seperti ini…


bersambung